Selasa, 20 Mei 2014

Seiring berjalannya waktu hari-hariku penuh dengan sukacita, semenjak kecil aku memiliki keluarga yang sederhana yang penuh cinta, aku adalah anak ke empat dari enam bersaudara, namun tiga dari kakaku itu berbeda ayah, kehidupan kami mulai tegang ketika ayah dan kakak tiriku hampir tiap hari berbeda pendapat, dahulu aku ingin selalu sepeti ayahku yang baik hati, sa menolong orang berbeda dengan mamaku yang selalu cerewet tanpa alasan, disisi yang lain aku kagung dengan perjuangan orang tuaku dalam menafkai kami sekeluarga. aku selalu bangga bahwa di desa kami tercinta yaitu tangkil karena desaku di kelilingi oleh pegunungan dan terdapat lebih dari 5 sungai kecil dan terdapat 2 coban yang besar. waktu kecil aku sering main kelereng, karet, gambar, maupun balap karung, main "kekean" dll seperti mainan orang jawa di desa. waktu saya sekolah di SD Pait 03 saya hampir tidak pernah pakai sepatu, dasi, ataupun topi karena kami tidak punya atau orang tua kami tidak mampu untuk membelinya. Hanya dengan keinginan dan tekad yang kuat kami bisa sekolah, saya tidak pernah di beri uang jajan seperti kebanyakan anak sekolah bagi ayahku kalalu lapar saya di suruh pulang ke rumah karena sekolahku amat dekat jarak 100 meter. Pengalamah berharga lainya adalah ketika ayahku mengajaku untuk ikut membajak sawah dengan memakai alat bajak dan sapi kesayangan kami sekeluarga. Saya terutama adek saya senang sekali, kami bermain lumpur sambil naik karapan sapi. Hidup terasa indah jika menjalaninya dengan bersyukur. ketika saya sudah tamat di sekolah dasar, saya tidak tahu mau melanjutkan di sekolah mana. Saya mencoba ikut sekolah temenku yang agak jauh, saya dan temenku di tes dan hasilnya kami berdua lulus namun kami di pisah, saya mendapat tempat yang jauh dan akhirnya saya berhenti. aku bingung waktu itu mau melanjutkan sekolah d mana. banyak pihan menyuruhku untuk berhenti sekolah namun ayahku terus menyemangatiku dengan kata-kata " kowe moso kate dadi koyok bapakmu" yang artinya kamu apa mau jadi seperti bapakmu. Kata-kata itu menyemangatiku untuk seolah, kebetulan kakak keponakanku juga ingin melanjutkan sekolahnnya di SMK. Pada waktu yang bersamaan saya dan kakaku pergi ke sebuah Panti Asuhan di kota Batu, yang bernama PAnti Asuhan Ebeneser. Awal saya masuk saya merasa tajut sekali, namun lama-lama saya menikamatinya jutru malah kakaku yang tidak betah tinggal d sana. Aku mempunyai banyak teman-teman baru dan baik sekali. Banyak hal yang saya datpakan d sana dan banyak juga pengalaman berharga yang saya dapatkan. Sampai akhirnya saya LULUS SMP. Orang tua saya jarang mengunjungiku d panti asuhan, bahkan hampir tidak pernah di tanya tentang nilai sekolahku d sana, baginya yang penting saya lulus. Setelah lulus saya melanjutkan sekolah di SMK yang juga ada di dalam panti asuhan tersebut sampai LULUS. Hal yang paling tidak enak sepanjang umurku adalah ketika aku kehilangan orang yang aku cintai dan sayangi yaitu Ayahku yang terlah berjuang keras untuk mendukungku bahkan dia selalu memotivasiku. Sungguh Tuhan terkadang tidak adil memanggil orang yang aku cintai....namun itu sudah jadi KehendakNya pada ayahku. Kebingungan dan kebimbangan menjadi satu namun walaupun ayahku meninggalkan aku semangatnya tidah akan pernah mati dalam sanubariku. Akan ku lanjutkan perjuaanmu. Sampai saat ini aku teteap berjuang untuk terus bisa sekolah, sekarang saya sedang menjalani kuliahku dan masih semester 4, orang tuaku angkat tangan naamun aku nda mau turun tangan demi masa depanku. aku harus dbisa memberi yang terbaik di masa depanku. Dan sekarang aku hanya bisa berjuang dan berdoa...........

Semangat yang patah mengeringkan tulang, so aku harus terus berjuang dan berjuang sampai aku mati nanti.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar